Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Habib Novel bin Salim bin Ahmad Jindan Singa Podium Betawi


Suarabamega25.com  -  Ceramah di Banyak Tempat  karta-Pada tahun 1970-1990 -an, di ibukota Jakarta nama Habib Novel bin Salim Jindan adalah muballig ternsma ibukota. Ceramahnya terdengar lantang dan berapi-api.Tampil selalu dengan pakaian dan gamis perlente.Ceramahnya tanh sarat dengan muatan kalam salaf, padat dan berisi membuat jamaah betah dan tak bosan untuk mendengarnya.   Habib Novel Sabtu pagi, 2 Rabits Tsani 1361 H / 18 April 1942 M di Bidara Cina Otista Jati Negara.                                       

Ibu Habib  Novel adalah Syarifah Aisyah binti Al Habib Usman bin Abdullah Syatho. Al Habib Usman adalah salah seorang ulama dari Makkah yang datang ke Sulawesi untuk berdakwah dan kemudian menikahi salah seorang wanita berdarah biru dari Bugis hingga lahir dari perkawinan tsb Syarifah Aisyah binti Al Habib Usman Syatho.

Al Walid Al Habib Novel sangat bakti kepada ibunya. Yang saya ketahui dari beliau adalah kepatuhannya kepada ibunya. Tidak pernah berucap kata “Tidak” kepada ibunya. Hingga wafat sang ibu pada tahun 1990 atau 1991. Sebagaimana bakti beliau yang sangat luar biasa kepada sang ayah, Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan. al Habib Salim yang senantiasa mendidik beliau. Al Walid Al Habib Novel selalu mendampingi sang ayah.                              

Sekitar tahun 1967  berangkat ke Makkah, dan tinggal di sana selama kurang lebih 2 tahun. Menimba ilmu dari para ulama yang ada di sana, diantaranya As Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki. Al Walid sangat disayang oleh As Sayyid Alwi hingga dipersaudarakan dengan putranya Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al Maliki. Sebagaimana juga menimba ilmu dan dekat dengan As Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Asy Syeikh Hasan Masysyaath dan para ulama ulama Al Haramain yang Saat itu berada di sana.

al Habib Salim berniat untuk pindah ke Makkah bersama seluruh keluarga besarnya, sehingga Al Walid menunggu kedatangan beliau dan mempersiapkan segalanya, namun karena beberapa hal hingga kepindahan Al Habib Salim tidak terwujud dan batal. Ketika Al Walid mendapat kabar bahwa kepindahan ayahnya batal, maka habib Novel bergegas untuk pulang ke indonesia karena khawatir akan keadaan ayahnya.                    

Setibanya di Indonesia sang ayah sangat gembira dan bahagia. Al Walid pernah bercerita  bahwa pernah bersama dakwah dengan Al Habib Salim sang ayah. Terkadang dalam suatu acara, sohibul bait mengundang Al Habib Salim dan Al Walid agar keduanya berceramah.  Dan di waktu yang sama ditempat lainpun mengundang keduanya, sehingga Al Habib Salim mengatakan kepada Al Walid, engkau sekarang ke acara yang di sana sedangkan aku di acara yang di sini, setelah engkau selesai maka bergegas untuk hadir di acara yang di sini sedangkan aku akan beranjak ke acara yang di sana.

Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad Al Hawi bercerita bahwa pernah dalam acara maulid Al Walid Al Habib Novel diminta berceramah di hadapan ayahnya Al Habib Salim dan saat itu hadir pula para habaib dan ulama lainnya. Setelah berceramah, sang ayah Al Habib Salim berdiri dan mengatakan dengan bangga, “wahai Hadirin, beginilah para Habaib dan keluarga Rasulullah SAW, mereka bagaikan pohon pisang, tidak mati induknya melainkan setelah tumbuh sempurna anaknya”. 

Hingga suatu hari dalam sebuah kesempatan Al Habib Salim melepaskan Imamah yang beliau pakai dan beliau letakkan dan pakaikan Habib Novel bin Salim bin Jindan.

Habib Salim bin Ahmad bin Jindan Wafat pada Malam senin tahun 1969. Dan meninggalkan putra putri yang solih dan solihah yang bertaqwa kepada Allah.         Dan tidak lama kemudian Habib Novel menikah dengan Habib Muhammad bin Ali bin Abdurahman Al Habsyi.

Habib Novel juga berguru kepada Al Habib Ali bin Abdurahman Al Habsyi, Al Habib Ali bin Husain Al Attas, Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad Al Hawi, dan senantiasa mendampingi mertua dan berguru kepadanya Habib Muhammad bin Ali bin Abdurahman Al Habsyi Kwitang, dan  juga berguru dari para ulama lainnya. Bahkan hampir sebagian besar guru-guru Habib Salim bin Ahmad bin Jindan adalah guru Habib Novel. Sebab Al Habib Salim setiap kali meminta Ijazah dari para gurunya selalu memintanya juga untuk anak dan keturunannya.

Seluruh hidupnya hanya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, hanya untuk berdakwah dan berjuang di jalan Allah hingga akhir hayat beliau.

Dorongan beliau kepada putra putrinya untuk menempuh jalan agama, dakwah di jalan Allah. Hingga Habib Novel kirim semua anak-anaknya untuk menimba ilmu. Dan setiap anak dari mereka saat berangkat,selalu berpesan kepadanya dengan apa yang di katakan oleh ibunda Asy Syeikh Abdul Qodir Al Jailani saat berpisah dan melepas anaknya menimba ilmu, "Wahai anakku, belajarlah bersungguh-sungguh dan jangan pernah berfikir kembali dan berjumpa, sebab aku akan menunggumu di depan telaga Rasulullah SAW di hari kiamat".                      

 Almarhum dikenal sebagai mubalig dengan gaya pidato yang berapi-api

Suaranya nyaring dan lantang, tak takut menyuarakan kebenaran. Tak mengherankan, banyak orang menyebutnya sebagai singa podium yang mampu menyihir pendengarnya. Apalagi ditunjang dengan tubuhnya yang gagah dan wajah tampan serta penampilan yang perlente.

Materi ceramahnya selalu dikemas dengan tema-tema aktual, berdasarkan kajian kitab-kitab klasik, sehingga membuat jemaahnya betah mengikuti pengajian selama berjam-jam. Pertama kali ia tampil sebagai mubalig pada 1980-an di Graha Purnayudha (kini Balai Sarbini) di kawasan Semanggi, Jakarta, dengan jemaah ribuan orang.

Habib Novel bin Salim bin Ahmad Jindan        Singa Podium Betawi Pada tahun 1970-1990 -an, di ibukota Jakarta nama Habib Novel bin Salim Jindan adalah muballig ternsma ibukota. Ceramahnya terdengar lantang dan berapi-api.Tampil selalu dengan pakaian dan gamis perlente.Ceramahnya tanh sarat dengan muatan kalam salaf, padat dan berisi membuat jamaah betah dan tak bosan untuk mendengarnya.                        Habib Novel lahir di Jakarta adalah putra Habib Salim bin Jindan, ulama besar yang masyhur yang mempunyai dua putra yakni Habib Shalahudin dan Habib Novel

Sejak kecil, Habib Novel dididik langsung oleh ayahandanya, baru pada 1960-1968 melanjutkan pelajaran ke Mekah kepada Syekh Alwi Al-Maliky dan Sayid Amin Al-Kurtubi. Pulang kembali ke tanah air, ia langsung berdakwah. Almarhum dikenal sebagai mubalig dengan gaya pidato yang berapi-api.

Suaranya nyaring dan lantang, tak takut menyuarakan kebenaran. Tak mengherankan, banyak orang menyebutnya sebagai singa podium yang mampu menyihir pendengarnya. Apalagi ditunjang dengan tubuhnya yang gagah dan wajah tampan serta penampilan yang perlente.

Materi ceramahnya selalu dikemas dengan tema-tema aktual, berdasarkan kajian kitab-kitab klasik, sehingga membuat jemaahnya betah mengikuti pengajian selama berjam-jam. Pertama kali ia tampil sebagai mubalig pada 1980-an di Graha Purnayudha (kini Balai Sarbini) di kawasan Semanggi, Jakarta, dengan jemaah ribuan orang.

Jemaahnya terus berkembang, tidak terbatas dari kawasan Jabotabek dan seluruh Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Untuk itu, ia kemudian mendirikan pondok pesantren Al Fakhriyah di Jl Prof Hamka, Larangan, Ciledug, Tangerang.     Banyak ulama besar sering bersilaturahmi. Misalnya, Habib Umar bin Hafidz, Habib Salim Asy-Syathiry, Habib Zain bin Smith, Habib Ali bin Anis Alkaff.

Sementara itu, jumlah santri yang mondok di Pesantren Al-Fakhriyah, yang sebelumnya hanya sekitar 50 santri, belakangan meningkat jadi sekitar 100 lebih. Mereka datang dari segala penjuru tanah air. Jumat, 3 Juni 2005 (25 Rabiulakhir 1426 H), tepatnya pukul 17.00 WIB, singa podium itu telah tiada.  Kabar wafatnya Habib Novel segera tersiar cepat melalui pesan SMS dan telepon. Sejak Jumat malam hingga Sabtu subuh, banyak orang datang bertakziah ke rumah pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah di Ciledug- Tangerang itu. Bahkan ada yang menginap di masjid dan pesantren. Mereka kebanyakan para pengasuh majelis taklim di sekitar Jabotabek.

Menurut beberapa santri terdekatnya, Jumat sore itu sekitar pukul 15.00 WIB almarhum baru pulang dari Sukabumi. Sepanjang perjalanan pulang, ia mengeluh sakit dada. Setiap kali minum, ia selalu muntah. Begitu sampai di rumah, ia langsung beristirahat. Dan sekitar pukul 17.00 WIB, ia dipanggil ke hadirat Allah SWT. 

Jenazahnya kemudian di kebumikan di sebelah Qurbah selatan selatan masjid pondok pesantren al Fakhriyah.                              Ia meninggalkan lima anak, buah perkawinannya dengan Syarifah Faurani: Habib Jindan, Habib Ahmad, Syarifah Amirrah, Syarifah Fatimah, dan Syarifah Balqis.

Saat ini pesantren al Fakhriyah telah berkembang pesat di bawah bimbingan pengasuh kakak beradik anak Habib Novel yakni Habib Ahmad dan Habib Jindan.(Jemaahnya terus berkembang, tidak terbatas dari kawasan Jabotabek dan seluruh Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Untuk itu, ia kemudian mendirikan pondok pesantren Al Fakhriyah di Jl Prof Hamka, Larangan, Ciledug, Tangerang.     Banyak ulama besar sering bersilaturahmi. Misalnya, Habib Umar bin Hafidz, Habib Salim Asy-Syathiry, Habib Zain bin Smith, Habib Ali bin Anis Alkaff.

Sementara itu, jumlah santri yang mondok di Pesantren Al-Fakhriyah, yang sebelumnya hanya sekitar 50 santri, belakangan meningkat jadi sekitar 100 lebih. Mereka datang dari segala penjuru tanah air. Jumat, 3 Juni 2005 (25 Rabiulakhir 1426 H), tepatnya pukul 17.00 WIB, singa podium itu telah tiada.  Kabar wafatnya Habib Novel segera tersiar cepat melalui pesan SMS dan telepon. Wapres RI, Dr Hamzah Haz , Habib Abdul Qader al Habsyi, Ustadz Arifin Ilham, Jefry al Bukhori dll saat itu tampak hadir melepas kepergian almarhum (mu'aziyin) . Sejak Jumat malam hingga Sabtu subuh, banyak orang datang bertakziah ke rumah pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah di Ciledug- Tangerang itu. Bahkan ada yang menginap di masjid dan pesantren. Mereka kebanyakan para pengasuh majelis taklim di sekitar Jabotabek.

Menurut beberapa santri terdekatnya, Jumat sore itu sekitar pukul 15.00 WIB almarhum baru pulang dari Sukabumi. Sepanjang perjalanan pulang, ia mengeluh sakit dada. Setiap kali minum, ia selalu muntah. Begitu sampai di rumah, ia langsung beristirahat. Dan sekitar pukul 17.00 WIB, ia dipanggil ke hadirat Allah SWT. 

Jenazahnya kemudian di kebumikan di sebelah Qurbah selatan selatan masjid pondok pesantren al Fakhriyah.                              Ia meninggalkan lima anak, buah perkawinannya dengan Syarifah Faurani: Habib Jindan, Habib Ahmad, Syarifah Amirrah, Syarifah Fatimah, dan Syarifah Balqis.

Saat ini pesantren al Fakhriyah telah berkembang pesat di bawah bimbingan pengasuh kakak beradik anak Habib Novel yakni Habib Ahmad dan Habib Jindan,"tutupnya.(Aji)

Tidak ada komentar: