Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Hilirisasi, Distribusi, dan Tantangan Industri Indonesia Oleh : Aji Setiawan


Suarabamega25.com - Pertumbuhan ekonomi bangsa-bangsa besar di dunia sekalipun pertumbuhannya  terbilang tinggi selama beberapa tahun, namun tidak diikuti pemerataan kesejahteraan bersama. Inilah yang melahirkan kesenjangan dan ketimpangan.

Bonus demografi berupa lonjakan pertambahan penduduk melahirkan tantangan baru berupa penyediaan pangan, akses pendidikan, penciptaan lapangan kerja, lingkungan, sarana infrastruktur, ekologi dan lingkungan  yang sehat  sebagai prasyarat pembangunan berkelanjutan.

Ini menjadi domain penting negara- negara berkembang tidak agar mengkakselerasi tidak saja menjadi meningkat menjadi negara maju dan unggul dan siap menuju kebingungan kosmopolitanisme negara modern. 


Tantangan peradaban industri maju yang tidak saja multinasional, regional membuat transformasi masyarakat industri sudah bergerak  menapaki peradaban maju untuk bersama dan bahu membahu mengatasi isu-isu ekonomi, seperti harga pangan, kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja.

Peran pemerintah dan hadirnya negara terhadap era baru industri dan digitalisme membuat kinerja pemerintahan harus gesit , tanggap seta responsif untuk meningkatkan pelayanan (service publik) menuju pemerintahan yang baik (good governance).

Kebijakan hilirisasi dianggap relevan untuk meningkatkan kembali kontribusi sektor industri. Kebijakan hilirisasi untuk menggerakkan sektor manufaktur dan meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap PDB. 

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan peringkat Indonesia dalam peta produsen barang manufaktur global. Dengan memperbaiki ekosistem investasi, meningkatkan efisiensi investasi, dan memperbaiki distribusi pendapatan melalui kebijakan hilirisasi yang berfokus pada tingkat lokal, melibatkan pelaku ekonomi kecil, dan mempertahankan sumber daya ekonomi di wilayah tersebut.

Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh konsumen. Persaingan dengan produk usaha mikro, kecil, dan menengah lokal terbuka.

Tanpa kehadiran ekosistem industri/bisnis yang kompetitif, ekosistem inovasi tidak akan terbangun.

Jalan yang mesti dilalui untuk mewujudkan hilirisasi masih panjang. Langkah demi langkah diayunkan konsisten demi akhir yang baik. Ketika melihat alur mata rantai industrialisasi dari hulu ke hilir (input-proses-output), hilirisasi menyisakan Pekerjaan Rumah yang panjang. 

Era pandemi, krisis global , konflik global, perubahan iklim membuat dunia di berbagai sisi adaptif dengan dunia baru ini. Sebagian industri bertahan, sebagian memindahkan usaha ke tempat yang masih kondusif untuk iklim usaha dan sebagian industri berfikir keras untuk memangkas besar-besaran biaya operasional, biaya produksi bahkan sampai muara akhir dari produksi pun berupa barang. 

Biaya pengiriman barang (pasokan) juga semakin dipangkas terkait biaya transportasi.( Dr Moh Ridwan dari Dept Teknology Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menerepong dari proses industri alur awal sampai akhir produksi dengan melihat dan meneliti ulang alur proses produksi secara menyeluruh agar hasilnya lebih efektif dan efisien (otimal). Jangan berbalik arah, karena itu justru tidak menghasilkan kinerja yang positif. 

Indonesia berusaha mencapai hilirisasi komoditas-komoditas unggulan yang dimiliki, tidak hanya pada komoditas mineral, tetapi juga komoditas nonmineral, hasil pertanian, dan kelautan. Proses hilirisasi juga harus melibatkan transfer teknologi dengan memanfaatkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT), serta meminimalisasi dampak lingkungan.

Ekonomi hijau dan hilirisasi merupakan window of opportunity bagi Indonesia untuk meraih kemajuan, dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki, termasuk bahan mineral, hasil perkebunan, hasil kelautan, serta sumber energi EBT. Agar diolah tidak dijual dalam bahan mentah, sehingga ada nilai tambah.

Karenanya, Indonesia harus menjadi negara yang juga mampu mengolah sumber dayanya, mampu memberikan nilai tambah, dan mensejahterakan rakyatnya. Kebijakan hilirisasi juga didorong untuk dapat mengoptimalkan kandungan lokal dan yang bermitra dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, dan nelayan, sehingga manfaatnya terasa langsung bagi rakyat kecil.

Upaya hilirisasi terus dilakukan untuk mewujudkan ekosistem besar, yang apabila telah terbentuk, didukung dengan beroperasinya pabrik pengolahannya, akan berbuah manis, terutama bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sebagai gambaran, penghentian ekspor nikel ore pada tahun 2020 menumbuhkan investasi hilirisasi nikel secara pesat. 

Bila hilirisasi dapat dilakukan dengan konsisten bagi komoditas nikel, tembaga, bauksit, CPO, dan rumput laut, dalam 10 tahun pendapatan per kapita diperkirakan mencapai Rp153 juta (USD10.900). Sedangkan dalam 15 tahun, diperkirakan mencapai Rp217 juta (USD15.800), serta Rp331 juta (USD25.000) dalam 22 tahun.

Untuk bisa mencapai tahapan tersebut, pemerintah telah mulai membangun fondasi berupa pembangunan infrastruktur dan konektivitas yang pada akhirnya menaikkan daya saing Indonesia. Sementara itu, berdasarkan International Institute for Management Development (IMD), daya saing Indonesia di 2022 naik dari rangking 44 menjadi 34. Ini merupakan kenaikan tertinggi di dunia.

Upaya hilirasadi ini didukung penuh oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menerapkan kebijakan industrialisasi berbasis hilirisasi yang memberikan berbagai manfaat, baik dalam bentuk nilai tambah industri, penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat.

Pada hilirisasi nikel, Kemenperin menghitung potensi nilai tambah pada industri smelter nikel yang dapat memproduksi hingga produk hilir. Dibandingkan harga nikel ore mentah yang sebesar USD30/ton, apabila diolah hingga menjadi MHP, nilai tambah komoditas tersebut dapat meningkat hingga 120,94 kali atau mencapai USD3.628/ton.

Untuk mengoptimalkan peningkatan nilai tambah dengan mengolah komoditas menjadi produk-produk hilir, Kemenperin melakukan langkah-langkah menghadirkan industri, di antaranya melalui promosi investasi bagi produk hilir termasuk dengan insentif fiskal dan nonfiskal, perluasan kerja sama internasional untuk mengisi pasar ekspor baru, serta memperkuat kemampuan negosiasi dan posisi dalam upaya menghadapi tekanan dari perdagangan dan diplomasi internasional.

Pada sektor industri agro, Kemenperin mengupayakan hilirisasi dapat menghasilkan produk-produk inovatif yang memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama untuk mendukung keberlanjutan lingkungan. 

Hilirisasi komoditas kelapa sawit menghasilkan oleo food complex yang merupakan produk-produk baru pangan modern yang sehat dan bernutrisi. Kemudian, biomaterial complex yang juga dapat memacu penguasaan teknologi dan komersialisasi industri biomaterial baru untuk substitusi impor, serta bahan bakar nabati berbasis sawit (biodiesel, green diesel, green fuel, biomass) sebagai bahan bakar EBT untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.

Indikator pencapaian program hilirisasi kelapa sawit ditunjukkan oleh perubahan komposisi ekspor antara bahan baku dan produk olahan. Pada 2015, komposisi ekspor minyak sawit meliputi 18% CPO dan 6 % CPKO, sisanya 61% produk refinery serta 15% produk lainnya. Pada tahun 2022, komposisi ekspor bahan baku mengalami penurunan menjadi 2% CPO dan 4% CPKO, dan selebihnya merupakan produk hilir.

hilirisasi memberikan multiplier effect atau dampak berganda, antara lain adalah meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menarik investasi masuk di tanah air, menghasilkan devisa besar dari ekspor, dan menambah jumlah serapan tenaga kerja. Lanjut Agus, dampak positif dari hilirisasi sektor tambang dan mineral juga telah menunjukkan peningkatan signifikan pada capaian nilai ekspor nasional.  lai ekspor dari industri ini menembus US$36,4 miliar, naik 40 persen dibanding 2021.

Sebelumnya, Jokowi mengatakan bahwa ia berharap melalui konsistensi hilirisasi, Indonesia akan menjadi negara maju pada 2045 mendatang dengan angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai US$9 triliun-US$11 triliun. Selain itu, pendapatan per kapita Indonesia juga diharapkan bisa mencapai US$21 ribu-US$29 ribu. (Aji)

Tidak ada komentar: