Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Haus Kekuasaan Oleh: Noorhalis Majid


Suaranamega25.com - Kekuasaan itu seperti minum air laut, semakin diminum, semakin haus. Sebanyak apapun diminum, tidak akan menghilangkan dahaga, justru tambah haus”, kata seorang tokoh dalam diskusi di group WA Ambin Demokrasi. 

Begitu hausnya kekuasaan, bila tidak boleh lagi meminum, karena aturan melarang dan membatasi, maka yang disuruh minum adalah keluarga sendiri, mulai dari istri, anak, adik, ponakan dan segenap handai taulan yang terikat dalam satu garis keluarga. 

Menjelang persiapan Pilkada 2024, ramai dibicarakan berbagai bentuk kehausan tersebut, dengan mempersiapkan pengganti tampuk pimpinan kekuasaan dari lingkungan keluarga sendiri.

Tidak bisa disebut dinasti, karena memang bukan dari kalangan darah biru. Ini hanya cermin dari kehausan kekuasaan yang mengarah pada “kerakusan”. Sebab, kekuasaan itu mestinya dipergilirkan secara demokratis dengan menjunjung prinsif kejujuran dan keadilan. 

Kekuasaan juga dimaksudkan untuk membangun kesejahtraan bersama, bukan kesejahtraan diri sendiri dan keluarganya, sehingga mesti dicari orang yang mampu mewujudkannya melalui sistem yang dianggap paling jujur dan adil, yaitu demokrasi.

Sayangnya, demokrasi yang jujur dan adil itu sekarang sangat diragukan. Karena pada kenyataannya dimanipulasi, diporak-porandakan sedemikian rupa, sampai hanya tinggal nama, sedangkan isinya jauh panggang dari api.

Bahkan, berkaca dari Pilpres dan Pileg yang baru saja berlalu, sudah tergambar bagaimana Pilkada nanti terselenggara. Sehingga, yang mampu menguasai dan mengendalikan proses serta hasil Pileg kemaren, merasa sangat yakin mampu mengulang sukses pada Pilkada nanti.

Siapapun yang haus akan kekuasaan, pasti tergoda memanfaatkan situasi demokrsi yang “abal-abal” ini, untuk melanggengkan kekuasaannya. Dan jadilah seperti minum air laut, semakin diminum, semakin haus dan lupa diri.

Bagi masyarakat sipil yang ingin memperbaiki keadaan, tidak ada pilihan, kecuali “lawan dan lawan!”. Hanya dengan melawan, demokrasi dapat diluruskan menjadi lebih baik. (nm)

Tidak ada komentar: