Indocement Catat Kinerja Positif 2025 di Tengah Tekanan Pasar Semen
Suarabamega25.com, Jakarta – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk kembali menunjukkan ketahanan bisnis dengan membukukan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025, meski industri semen nasional tengah menghadapi tekanan penurunan permintaan.
Secara umum, pasar semen domestik mengalami kontraksi sebesar 2,2% pada 2025. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya permintaan semen curah hingga 8,3% akibat berkurangnya anggaran infrastruktur pemerintah. Di sisi lain, segmen semen kantong masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,5%.
Di tengah kondisi tersebut, Indocement mencatat total volume penjualan semen dan klinker sebesar 19,94 juta ton, turun 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan domestik menyusut 3,9%, namun kinerja ekspor justru melonjak signifikan hingga 73,9%, menjadi penopang penting di tengah lesunya pasar dalam negeri.
Dari sisi keuangan, pendapatan neto tercatat Rp17,73 triliun, turun 4,4%. Meski demikian, laba tahun berjalan justru meningkat 12% menjadi Rp2,25 triliun. Kenaikan laba ini didorong oleh efisiensi biaya, penurunan beban usaha, serta kontribusi laba dari divestasi sebesar Rp670 miliar.
Margin laba usaha Indocement juga mengalami peningkatan menjadi 15,3%, sementara EBITDA tumbuh 8,5% menjadi Rp4,27 triliun, mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan pasar.
Tak hanya fokus pada kinerja finansial, Indocement juga memperkuat langkah keberlanjutan. Penggunaan bahan bakar alternatif meningkat signifikan dari 21,4% pada 2024 menjadi 29% di 2025. Hal ini berdampak pada penurunan emisi karbon (Scope 1) dari 533 kg menjadi 512 kg CO₂ per ton semen.
Dari sisi ekspansi dan strategi bisnis, Indocement mengakuisisi dua terminal semen milik Semen Bosowa di Sulawesi Selatan dan Lombok, serta memperpanjang kerja sama operasional pabrik Maros. Selain itu, melalui anak usahanya PT Pionirbeton Industri, perusahaan juga membentuk usaha patungan dengan PT Cipta Mortar Utama untuk memperkuat bisnis mortar.
Perusahaan juga mencatat posisi kas yang solid sebesar Rp5,9 triliun per akhir 2025, memberikan fondasi kuat untuk menghadapi tantangan ke depan.
Memasuki 2026, Indocement memproyeksikan permintaan semen akan mulai pulih pada kuartal II seiring masuknya musim kemarau dan meningkatnya aktivitas konstruksi. Namun, perusahaan tetap mewaspadai ketidakpastian global, khususnya potensi kenaikan biaya energi.
Dengan strategi efisiensi, diversifikasi bisnis, dan fokus pada keberlanjutan, Indocement optimistis mampu menjaga kinerja dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di tahun mendatang.


Tidak ada komentar: