Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Semangat Pagi Oleh : Aji Setiawan


Suarabamega25.com - Selepas berhari ditimpa hujan berturut 3 hari terakhir, asa dan harapan bagi saya yang tinggal di desa adalah hidup dari apa yang pernah ditanam. Ada yang bisa dipanen, asal mau menanam detik ini juga walau dengan lahan yang sempit.Berdayakan lahan pekarangan, halaman rumah tanami dengan rabuk yg cukup walau di atas pot.

Air kehidupan ini turun dengan deras, lebih dingin menusuk tulang bila malam. 

Rasa kantuk ku tersentak, kopi pagi yang tentu beda dengan aroma kopi sore. Kopi pagi dahulu rasa penuh pengumuman "atas petunjuk bapak presiden" Hari ini harga cabe keriting sekian, kentang mutu A, B, C , D. Aku tak bisa membayangkan berita jaman orba jadi kolom kopi pagi di Post Kota, Warta Kota dan terakhir pernah kulihat di Suara Karya. 

Beda kopi sore, anak turunnya Krmadil Tabloid Adil.Kopi Sore adalah kolom Emha di Jogja Post sore jelang Reformasi, sebuah tulisan renyah dari Cak Nun yang membuat mahasiswa suka jadi membacanya. Gaya menulisnya yang sederhana.Bahasa yang netral, penuh joke segar namun tetap kritis dan tajam dengan penguasa itu menjadi penegakan kebenaran jelas jenis kelaminnya. Membuat, koran Jogja Post diantri satu ekslemplar untuk dibaca min 1 kost-kostan.

Tentu hari-hari ini kita tengah merindu perubahan itu agar tetap  terjaga. Kpndulsifitas iklim demokrasi ini perlu dirayakan dengan porsi masing-masing di berbagai lini.Semua ada ruang pilihan untuk bekerja di eksekutif, yudikstif, legislatif, pers, oposisi dll. Ruang-ruang ekspresi ini akan menunjukan kualitas demokrasi kita di mata dunia.

Petani di desa , hidup.mengantungkan diri dan meleburkan waktu dan modal dari lahan sehingga asa dan harapan tentu dari panen yang berlimpah.

Hidup itu sederhana.Petani jaman dulu beda dengan petani jaman sekarang, ketika mesin pengolah tanah , pupuk modern, bibit unggulan telah merubah philosofi para petani yang justru melahirkan petani yang tidak berdaulat dengan dirinya. Petani dahulu (tradisional) dengan kearifan lokal (local wisdom) mengolah lahan tani dari limbah ternak, sehingga lahan pertanian (kontur tanah) tidak bantat. Subur, itulah kontur tanah tropis yang kaya akan unsur nitrogen, phosfat dan kalium. Ketika modernisasi pertanian memberangus kesuburan tanah, maka perebutan tanah /lahan subur itu sebenarnya utopia juga, lha itu adanya di hutan.

Lahirlah ketergantungan dengan lahan, air, pupuk, bibit, obat anti hama , spekulan harga produk pertanian, hilirsasi dll. Hari-hari ini kita saksikan berapa gelintir penduduk yang mau terjun ke sawah. Mungkin antara 2-3 % saja .Coba bisa dihitung dari 4000 penduduk , 400-800 penduduk saja yang jadi petani.

Wajarlah, urbanisasi bukan saja memakan masyarakat industri modern dan digital yang meluluhlantakan nilai kapital segala-galanya melulu uang dan modal.Sehingga bonus demografi nyata serius melahirkan ancaman kekurangan pangan , sandang, pendidikan, papan, penciptaan lapangan kerja sehingga ini perlu langkah sinergis berbagai pihak agar tidak melahirkan masalah baru yakni ketimpangan dan kesenjangan sosial.

Krisis moral dan etika, itu baru persoalan dari krisis humanisme , dari diterminan atas kekuasaan global yang tadinya perebutan kuasa melalui perang dan penaklukan lewat penyingkiran kekuasaan. 

Revolusi industri berbarengan dengan meningkatnya kesadaran untuk menaikkan harkat dan derajat kebutuhan global akibat pertambahan penduduk juga akhirnya pada dasawarsa terakhir  melahirkan puncak kuasa  baru kapitalisme ─úlobal yang tak kalah sengitnya. Dimana kerakusan dan penyakit modern juga tak kalah dahsyatnya. Abad kecemasan itu terlalu berlebihan, bagaimana tidak? Persoalan untuk sepakat berdamai di masa dekade terakhir, atas nama konflik Ukrania, Pandemi, Global climate terakhir Palestine sejatinya menggugah alasan rasa kemanusiaan kita untuk segera berdamai dengan sejarah. 

Merenung ulang untuk mereparasi keadaan, bahwa dampak global ini perlu dihadapi dengan kesadaran yang sama. 

Bahwa, olah rasa berjuang dan perjuangan kehidupan bersama menghadapi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakanga ini adalah demi cita-cita dan muara akhirnya adalah hidup sejahtera.

Bahwa selamatnya nalar dan akal sehat jauh lebih utama dibanding dengan sehatnya raga. Walau idealnya kita semoga senantiasa seha jiwa dan raga .biidznillah fi dieni wad dunnya wal achiroh...amin.

Bukankah kita sering mendengungkan lagu..

Bangunlah jiwa..nya

Bangunlah..untuk Indonesia Raya.(Aji)

Tidak ada komentar: