Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Cita-cita NU adalah untuk Mendorong Terbentuknya Peradaban Yang Akhlakul Karimah (Mulia)


Suarabamega25.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa NU didirikan dengan visi peradaban untuk membangun peradaban baru yang lebih baik dan mulia bagi seluruh umat manusia, bukan hanya umat Islam.

"Ini keyakinan saya yang saya peroleh dari usaha saya belajar sungguh-sungguh tentang bagaimana mulainya NU ini didirikan, bagaimana tradisi kekiaian yang sudah tumbuh sebelumnya, konteks kesejarahan ketika NU didirikan, kemudian tahap-tahap yang dicapai sepanjang sejarah keberadaannya, maka saya sampai pada keyakinan: cita-cita NU adalah cita-cita peradaban," kata Gus Yahya.

Dalam pandangannya, cita-cita NU adalah cita-cita peradaban adalah yang bertujuan untuk mendorong terbentuknya peradaban dengan akhlakul karimah atau akhlak mulia.

"Saya mengimajinasikan NU ini nanti menjadi aktor yang memberi kontribusi, yang bermakna bagi lahirnya peradaban baru, peradaban umat manusia yang baru, yang lebih mulia," ucapnya. 

"Ukuran lebih mulia itu apa? Ukuran lebih mulia ya akhlakul karimah, karena misi Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu adalah tatmim makarimil akhlak, sebagaimana Beliau bersabda: Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlak," tambahnya.

Untuk mencapai hal ini, Gus Yahya mengimajinasikan NU sebagai aktor yang memberikan kontribusi dan dampak berskala peradaban, terutama dalam meningkatkan kualitas hidup dan vitalitas ekonomi warga NU.

Meskipun pada masa lalu warga NU banyak mengalami krisis finansial, Gus Yahya melihat bahwa kualitas hidup warga NU secara umum telah meningkat secara signifikan, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.

"Kalau kita bicara tentang warga NU tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, mungkin ada benarnya bahwa warga NU ini banyak yang miskin. Tapi sekarang, belum tentu. Saya melihat sekarang sebetulnya kualitas hidup dari warga NU secara umum sebetulnya sudah meningkat secara signifikan," tuturnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengungkapkan bahwa pertumbuhan Nahdliyin makin besar dengan karakter demografi jamaah yang dinamis.

Gus Yahya juga menyoroti tren pertumbuhan konstituen NU sejak pemilu 2004, di mana jumlah pemilih yang mengaku warga NU meningkat dari 18 persen menjadi 35 persen.

"Saya menyadari adanya tren membesarnya konstituen NU, membesarnya ukuran jamaah NU itu sudah sejak lama, sejak 2007, 2008, ketika mendapatkan informasi bahwa exit poll. Pemilu tahun 2004 itu para pemilih 35 persen dari mereka mengaku warga NU," kata Gus Yahya.

Angka yang mengaku sebagai warga NU telah mencapai 54 persen. Inilah yang menjadikan perhatian kita bersama.

Gus Yahya menekankan perlunya mempertimbangkan konsekuensi dari pertumbuhan ini, khususnya dalam memahami letak basis jamaah NU yang baru.

Ia mengamati bahwa warga NU saat ini tidak hanya terpusat di pesantren dan desa seperti sebelumnya, tetapi juga tersebar di berbagai sektor seperti industri, korporasi, perkantoran, dan pasar. Hal ini menuntut PBNU untuk mengakui tanggung jawabnya terhadap seluruh jamaah NU, tanpa memandang latar belakang atau lokasi mereka

"Mereka ini semuanya merasa NU. Dan tentu saja, ya enggak boleh kita kemudian berpaling dari mereka: menganggap mereka bukan tanggung-jawab kita, engga bisa," ujarnya.

Untuk menghadapi dinamika ini, Gus Yahya menyatakan perlunya pengembangan model aktivisme dan konstruksi keorganisasian yang baru. Meskipun menghadapi banyak kendala, PBNU berkomitmen untuk terus beradaptasi dan mencari solusi yang tepat guna memastikan bahwa semua jamaah NU merasa diakui dan didukung oleh organisasi tersebut.

"Mereka tetap harus kita pandang sebagai bagian dari tanggung jawab Nahdlatul Ulama, tanggung jawab dari ri'ayah, pengasuhan Nahdlatul Ulama kepada masyarakat. Ini berarti membutuhkan cara baru di dalam berorganisasi, membutuhkan model aktivisme baru, membutuhkan konstruksi keorganisasian, dan seterusnya," ucapnya.

"Nah, inilah yang sekarang sedang kita berusaha kembangkan. Kendalanya banyak, tapi kita atasi sedikit demi sedikit. Kalau perlu dengan akal-akalan, yang penting ini bisa jalan," pungkasnya. (red)

Tidak ada komentar: