Sebab Puisi Edisi Keenam Meriah, Sastrawan dan Wartawan Batam Bersatu Merawat Budaya
Suaraabamega25.com – Gelaran Sebab Puisi edisi keenam berlangsung meriah di Laman Kata Rumahitam, Sekupang, Batam, Sabtu (10/10/2026) malam. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari sastrawan, penulis buku, guru, seniman hingga wartawan, berkumpul dalam panggung apresiasi sastra tersebut.
Kegiatan yang digagas Komunitas Seni Rumahitam bersama Seksi Budaya PWI Kepulauan Riau (Kepri) ini menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku sastra untuk membacakan karya, berbagi gagasan, serta menjaga denyut kehidupan kebudayaan di Batam.
Sejumlah sastrawan tampil membacakan puisi dan karya mereka, di antaranya Nursalim, Chanchan Parase, Polma Chania, Cak Ansor, Mauharta, Susanto Siregar, dan Indra Pendekar. Dua penulis buku, Karina R. Sembiring serta Asmira dan Ning, juga turut meramaikan kegiatan tersebut.
Dari kalangan jurnalistik, hadir Indra Helmi, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Batam, serta Denni Risman, Pemimpin Redaksi MimbarJurnalis yang juga pengurus SIWO PWI Pusat.
Buralimar Meriahkan Malam Sastra dengan Lagu
Suasana malam sastra semakin berwarna dengan kehadiran Buralimar, mantan Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau. Ia turut memeriahkan acara dengan membawakan dua lagu karya Bimbo dan Kenan Nasution.
Kehadirannya menunjukkan bahwa Sebab Puisi bukan hanya menjadi panggung pembacaan karya sastra, melainkan juga ruang perjumpaan berbagai ekspresi seni, mulai dari puisi hingga musik.
Presiden Komunitas Rumahitam, Tarmizi, mengungkapkan bahwa Kapolresta Barelang Kombes Pol. Anggoro Wicaksono semula dijadwalkan hadir sebagai tamu spesial pada perhelatan tersebut. Namun, agenda itu batal karena bertepatan dengan kegiatan pisah sambut Kapolda Kepri.
“Namun karena bersamaan dengan acara pisah sambut Kapolda Kepri, Pak Kapolresta minta maaf tidak bisa hadir,” kata Tarmizi sebelum acara dimulai.
Sebab Puisi, Ruang Menyampaikan yang Tak Terucapkan
Tarmizi menjelaskan, Sebab Puisi lahir dari keinginan menghadirkan ruang terbuka bagi sastrawan dan penulis untuk menampilkan karya secara langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, perkembangan sastra membutuhkan wadah pertemuan yang konsisten agar kreativitas para penulis terus tumbuh. Karya sastra tidak seharusnya hanya tersimpan secara pribadi, tetapi perlu dibacakan, didengar, dan diperbincangkan bersama.
Sebelumnya, kegiatan ini dikenal dengan nama Sabtu Batam Berpuisi. Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi ruang apresiasi yang tidak hanya berfokus pada pembacaan puisi, tetapi juga membuka kesempatan untuk bincang buku, diskusi literasi, dan dialog kebudayaan.
Nama Sebab Puisi dan frasa “Di Lain Kata” merepresentasikan gagasan bahwa tidak semua perasaan, kegelisahan, pengalaman, maupun makna kehidupan dapat disampaikan melalui percakapan sehari-hari. Ada hal-hal yang justru menemukan bentuk dan maknanya melalui puisi.
Semangat itulah yang ingin terus dirawat Rumahitam dengan memberikan ruang bagi penulis dan seniman untuk menyampaikan pemikiran melalui karya, sekaligus mendengarkan perspektif orang lain.
Rumahitam Ingin Menjadi Ruang Pertemuan Sastrawan
Tarmizi berharap Rumahitam dapat berkembang menjadi ruang kebudayaan yang dikenal lebih luas, tidak hanya oleh sastrawan Batam, tetapi juga pelaku seni dari berbagai daerah di Kepulauan Riau, Indonesia, hingga mancanegara.
Harapan tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Sebab Puisi sebagai kegiatan berkelanjutan. Melalui panggung terbuka, para penyair dan penulis memiliki kesempatan memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring dengan sesama pelaku budaya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan pola masyarakat dalam menikmati karya seni, pertemuan langsung dinilai tetap penting. Puisi tidak hanya hadir sebagai teks di atas kertas atau unggahan di media sosial, tetapi juga menjadi pengalaman yang dapat didengar, dirasakan, dan didiskusikan bersama.
Kehadiran peserta dari beragam profesi dalam edisi keenam memperlihatkan bahwa sastra mampu mempertemukan berbagai kalangan dalam satu ruang kebudayaan.
Menghidupkan Kembali Panggung Sastra Batam
Sebab Puisi juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas sastra dan kesenian lokal setelah sempat mengalami kevakuman akibat pandemi.
Melalui kegiatan yang cair dan terbuka, Rumahitam menyediakan ruang bagi penyair, penulis, seniman, pendidik, mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat umum untuk terlibat dalam kehidupan sastra.
Panggung baca puisi menjadi salah satu cara agar karya-karya lokal tetap mendapat tempat di tengah derasnya arus budaya digital. Selain memberikan kesempatan tampil kepada penulis, kegiatan ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal sastra secara lebih dekat.
Dengan demikian, Sebab Puisi bukan sekadar agenda rutin membaca puisi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem sastra yang mempertemukan pencipta karya, pembaca, dan masyarakat.
Sastra dan Gerakan Merawat Budaya Melayu
Di balik gerakan tersebut, terdapat sosok budayawan dan penyair Kepulauan Riau, Tarmizi Rumahitam, yang mengembangkan Komunitas Seni Rumahitam sebagai ruang berkesenian sekaligus pelestarian budaya.
Aktivitas Rumahitam tidak terbatas pada pertunjukan puisi. Komunitas ini juga bergerak dalam kegiatan pelestarian budaya Melayu, salah satunya melalui pembuatan dan pelestarian tanjak sebagai bagian dari identitas budaya Melayu.
Gerakan tersebut memperlihatkan bahwa sastra dan tradisi dapat berjalan beriringan dalam menjaga kekayaan budaya daerah.
Melalui Sebab Puisi, Rumahitam berupaya mempertahankan ruang bagi karya sastra agar terus hidup, berkembang, dan menjangkau lebih banyak orang.
Malam itu, bait-bait puisi menjadi penghubung berbagai latar belakang. Dari penyair hingga wartawan, dari penulis buku hingga pendidik, semuanya bertemu dalam satu panggung untuk merawat kata, menyuarakan rasa, dan menjaga denyut kebudayaan Batam serta Kepulauan Riau.(Ysf)


Tidak ada komentar: