Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Dari Bondowoso ke Tarim, Perjalanan Ilmu Habib Salim bin Hafidz


Suarabamega25.com - Habib Salim bin Hafidz bin Abdullah merupakan salah satu ulama besar Ahlul Bait yang jejak keilmuannya masih terasa hingga hari ini. Beliau dikenal sebagai al-Habib al-‘Allamah al-Musnid, seorang penjaga mata rantai keilmuan (isnad) yang kokoh, serta sosok alim yang memadukan keluasan ilmu dengan keteladanan akhlak.

Habib Salim memiliki nasab mulia yang bersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah al-Zahra. Silsilah panjang ini menempatkannya dalam barisan para ulama besar Ba‘Alawi yang sejak berabad-abad menjadi penerang umat di berbagai penjuru dunia Islam.

Dari Jawa ke Hadramawt, Menapaki Jalan Ilmu

Habib Salim lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada tahun 1288 H (1871 M). Sejak usia muda, beliau telah ditempa dalam perjalanan spiritual dan keilmuan. Pada tahun 1297 H, ayahnya, Habib Hafidz, membawanya hijrah ke Hadramawt, menetap di desa Mishtah dekat Tarim—tanah yang dikenal sebagai pusat para wali dan ulama.

Di Tarim, Habib Salim menimba ilmu langsung di bawah bimbingan Mufti Hadramawt, Habib ‘Abd al-Rahman bin Muhammad al-Mashhur. Hari-harinya diisi dengan tilawah Al-Qur’an pada sepertiga malam terakhir, majelis ilmu sejak Subuh hingga Ishraq, serta zikir dan pembelajaran tanpa henti. Setelah itu, beliau memperdalam ilmunya di Say’un bersama para ulama besar, seperti Habib Ali al-Habashi dan Habib ‘Ubaydullah bin Muhsin al-Saqqaf.

Pengembara Ilmu dan Penjaga Isnad

Habib Salim dikenal luas sebagai ulama pengembara. Beliau melakukan perjalanan ke Hijaz, India, Afrika Timur, dan Nusantara, bertemu para ulama besar dan menyambungkan sanad keilmuan lintas wilayah. Kepeduliannya terhadap pelestarian sanad diwujudkan dalam karya monumental Minhat al-Ilah, yang mencatat tidak kurang dari 149 guru beliau beserta hubungan keilmuan dan ijazah yang diterimanya.

Karya ini menjadikan Habib Salim sebagai salah satu musnid terkemuka pada masanya—ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memastikan kemurnian transmisi ajaran Islam dari generasi ke generasi.

Hidup untuk Umat dan Akhirat

Di Mishtah, Habib Salim mengabdikan hidupnya untuk mengajar masyarakat, mendamaikan perselisihan, dan membangunkan umat untuk shalat Subuh dengan suara lantang—sebuah tradisi yang beliau lakukan sebelum adanya pengeras suara. Malam-malamnya diisi dengan shalat, tilawah, dan ibadah yang tak pernah terputus.

Beliau membaca Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali setiap hari, serta berkali-kali mengkhatamkan Sahih al-Bukhari, bahkan di makam leluhurnya, Syekh Abu Bakar bin Salim. Di masa langkanya buku cetak, Habib Salim menyalin Al-Qur’an dan kitab-kitab penting dengan tangannya sendiri—sebuah warisan kesungguhan yang jarang tertandingi.

Meski memiliki ilmu luas, beliau dikenal sangat tawadhu. Dalam majelis ulama, beliau memilih duduk di pinggir dan diam, meski pendapatnya sangat bernilai. Beliau bahkan merasa berhutang budi kepada murid-muridnya karena kasih sayang yang Allah titipkan di hatinya untuk manusia.

Warisan Abadi

Pada tahun 1363 H, Habib Salim mewakafkan tanah pemakaman al-Rawdah untuk penduduk Mishtah, lengkap dengan masjid, sumur, dan kebun kurma. Inisiatif ini meringankan kesulitan masyarakat yang sebelumnya harus memakamkan jenazah ke Tarim atau ‘Aynat.

Habib Salim wafat pada 29 Rajab 1378 H (1959 M) dan dimakamkan di al-Rawdah sesuai wasiatnya. Meski banjir besar melanda Hadramawt pada 2008 dan menghancurkan banyak bangunan, makam Habib Salim tetap utuh, menjadi simbol penjagaan Allah terhadap hamba-Nya yang ikhlas. Kini, di kawasan tersebut berdiri sebuah ribat cabang Dar al-Mustafa, melanjutkan denyut dakwah dan pendidikan Islam.

Warisan Habib Salim terus hidup melalui keturunannya. Putranya, Habib Muhammad, gugur sebagai syahid, sementara cucu-cucunya—Habib Ali al-Masyhur dan Habib Umar bin Hafidz—meneruskan cahaya ilmu dan dakwah yang kini menerangi dunia Islam.

Habib Salim bin Hafidz bukan hanya ulama besar, tetapi mata rantai emas yang menghubungkan umat dengan warisan Rasulullah ﷺ—dalam ilmu, akhlak, dan pengabdian.

Sumber: MUWASALA

Tidak ada komentar: