Manaqib Habib Ibrahim bin Umar Al Habsyi Nagara
Suarabamega25.com – Habib Ibrahim bin Umar Al Habsyi, seorang ulama besar yang berasal dari Hadramaut, Yaman, meninggalkan kisah yang penuh keistimewaan selama hidupnya. Meski sudah sepuh, beliau berpesan tentang ajalnya yang tak lama lagi. Sebelum menghadap Sang Pencipta, Habib Ibrahim berkeinginan pulang ke kampung halamannya di Hadramaut, Yaman. Namun, setibanya di sana, beliau menyadari bahwa sebuah pena yang bukan miliknya terbawa dalam perjalanannya. Hanya karena itu, beliau memutuskan untuk kembali ke Nagara, Kalimantan Selatan, Indonesia, meskipun perjalanannya sangat jauh.
Habib Ibrahim lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, dan dibesarkan dalam lingkungan ilmiah yang mendalam. Beliau menimba ilmu dari sejumlah ulama besar, di antaranya ayahnya, Habib Umar Al Habsyi, serta Habib Ahmad bin Muhsin Al Ahdhar dan lainnya. Habib Ibrahim dikenal memiliki hafalan yang luar biasa, baik dalam Alqur’an maupun hadits, bahkan beliau menguasai 12 ribu matan hadits.
Pada masa mudanya, beliau mendapat perintah dari guru utama beliau, Habib Ali Al Habsyi, untuk berdakwah di Indonesia. Habib Ibrahim pun memulai perjalanannya ke Indonesia bersama putranya, Habib Muhammad Al Habsyi, dan beberapa murid Habib Ali Al Habsyi. Mereka pertama kali singgah di Ampel, Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Selatan. Di sana, beliau menetap di Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Di Nagara, Habib Ibrahim mendirikan Masjid Jami Ibrahim di Sungai Mandala, Nagara, serta memimpin berbagai kegiatan dakwah dan pengajaran. Di antaranya, beliau mengajarkan kitab-kitab tasawuf seperti Al-Adzkar karya Imam Nawawi, Syarah Ibnu Qasim, dan Mukhtashar Al Hadhramiyyah. Kesehariannya tidak hanya mengajar tetapi juga membimbing umat melalui majelis dan memberi kontribusi dalam pembangunan masjid.
Keilmuan Habib Ibrahim tidak hanya diukur dari hafalan Qur’an dan hadits, tetapi juga dari keistimewaan yang diberikan Tuhan, berupa berbagai keramat. Salah satu kejadian yang terkenal adalah ketika beliau menaiki kendaraan yang mogok karena kehabisan bahan bakar. Meski hal itu tidak masuk akal, beliau menyarankan untuk mengisi kendaraan dengan air, dan kendaraan itu pun bisa berfungsi kembali, membawa beliau melanjutkan perjalanan.
Cerita lainnya yang dikenal luas adalah ketika Habib Ibrahim menyambut banyak tamu. Meski hanya menggunakan teko kecil, air yang keluar dari teko tersebut tak pernah habis hingga seluruh tamu mendapatkan bagian. Keajaiban-keajaiban ini menunjukkan betapa besar keberkahan yang ada pada beliau.
Namun, kisah paling mengesankan adalah keputusan Habib Ibrahim untuk kembali ke Hadramaut hanya untuk mengembalikan pena yang terbawa secara tidak sengaja. Setelah melakukan perjalanan panjang dari Hadramaut ke Nagara, beliau mengembalikan pena tersebut, yang ternyata milik panitia masjid. Tidak lama setelah itu, Habib Ibrahim pun menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Sebelum wafat, beliau telah menunjuk orang-orang yang akan memandikan jenazahnya.
Pada 14 Safar 1354 H, setelah menunaikan shalat Jumat, Habib Ibrahim menghadap Sang Pencipta, meninggalkan umat yang sangat mencintainya. Kematian beliau meninggalkan banyak kenangan yang tak terlupakan, baik karena ilmu, keramat, maupun kedalaman hatinya yang terus dikenang oleh umat hingga kini.


Tidak ada komentar: