Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Dirty Vote Film Dokumenter Paling Diminati Pada Masa Tenang


Suarabamega25.com - Masa kampanye Pemilu Parpol dan Capres /Cawapres RI berakhir pada Sabtu (10/2) dan selama 3 hari masyarakat sudah memasuki masa tenang. Pada masa tenang, seluruh rakyat Indonesia memanfaatkan waktu untuk menonton Film Dokumenter yang berdurasi Dirty Vote berisi dokumenter yang mengupas tuntas tentang sistem dan metode kecurangan yang berpotensi terjadi di Pemilu 2024. Film berdurasi selama 1 jam 57 detik tersebut mengungkap kecurangan pemilu dengan melibatkan tiga (3) pakar hukum tata negara yakni Bivitri Susanti, Zainal Arifin Mochtar, dan Feri Amsari. Film ini disutradai oleh Dandhy Dwi Laksono. Lebih tepatnya menguraikan dan analisis atas hasil survey dan analisis dari pakar hukum terhadap paslon capres cawapres dan hasil survey terakhir parpol.

"Nonton dulu film dokumenter ini sebelum memilih yuk! Agar kita tahu terlebih dahulu para pakar tata negara menggambarkan bagaimana kecurangan Pemilu 2024 dirancang secara terstruktur, sistematis, dan massif, " ajak Gus Rommy.

Ajakan serupa. juga datang dari Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Lolly Suhenty menyarankan masyarakat untuk dapat segera menonton film dokumenter "Dirty Vote".

"Kami bahkan, kayak tadi, misalnya, ada enggak yang belum tonton? Kita menyarankan untuk segera ditonton karena ini menjadi autokritik terhadap proses penyelenggaraan pemilu di kita (Indonesia)," kata Lolly di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa.

Menurut Lolly, pihaknya menjadikan kritik dari film dokumenter tersebut sebagai bagian refleksi dan evaluasi.

"Tetapi dalam konteks kinerja Bawaslu, maka kami tentu saja siap mempertanggungjawabkan seluruh kinerja yang sudah dilakukan dalam konteks penanganan pelanggaran yang kemudian dibidik dalam film itu," ujarnya.

Sementara itu, dia mengatakan bahwa Bawaslu masih mengkaji adanya kampanye hitam atau "black campaign" dalam film dokumenter tersebut.

"Karena kan film-nya juga baru rilis ya. Jadi masih dalam kajian kami. Kami akan lihat karena juga sudah ada komentar-komentar atau protes yang disampaikan," tuturnya.

Walaupun demikian, dia menjelaskan bahwa dirinya belum mendapatkan informasi mengenai adanya pelaporan dugaan kampanye hitam dalam film dokumenter "Dirty Vote".

Film dokumenter "Dirty Vote" disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono. Dalam siaran tertulisnya, Dandhy menyampaikan film itu bentuk edukasi untuk masyarakat yang pada 14 Februari 2024 akan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2024.

"Ada saatnya kita menjadi pendukung capres-cawapres, tetapi hari ini saya ingin mengajak setiap orang untuk menonton film ini sebagai warga negara," kata Dandhy.

Dia menjelaskan film itu digarap dalam waktu sekitar 2 minggu, yang mencakup proses riset, produksi, penyuntingan, sampai rilis. Pembuatannya, dia menambahkan, melibatkan 20 lembaga, antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bangsa Mahardika, Ekspedisi Indonesia Baru, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Perludem, Indonesia Corruption Watch, JATAM, Lokataru, LBH Pers, WALHI, Yayasan Kurawal, dan YLBHI.

Dalam waktu kurang lebih 5 jam setelah siar di YouTube, film itu saat ini telah dilihat 355.831 orang dan dan disukai oleh 51.294 pengguna YouTube. Sementara hingga Selasa pukul 19.00 WIB, film tersebut telah disaksikan sekitar 7,5 juta penonton.

Film dirty Vote dlm tiga hari terakhir meledak benar. Beragam tanggapan muncul, sah-sah saja.Majalah Sabili menyebut angka 15 juta pemirsa. Dari PSHK sendiri sudah tembus 8,7 juta.

Pada saat yang sama di Grup2 (WAG) dikabarkan informasi dari bedah data pasangan capres dan hasil survey terakhir dengan parpol. Film dokumenter ini mengingatkan para tukang survey cara menyajikan Hasil survey. Lebih tepatnya  mirip  Cara Menyajikan Hasil Menulis Jurnalisme Presisi( Aji)

 


 

Tidak ada komentar: