Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Marhaban Ya Ramadhan Marhaban Syahrul Shiyami


Suarabamega25.com - Seandainya Rasulullah SAW hadir ke rumahmu dan mengetuk pintu mu serta membangunkan mu, 'sebentar lagi Ramadan, sekarang jelang bulan Syakban. Mendadak kuterbangun dari tidur panjang dan mimpi indah di sore hari.

Membayangkan 14 ,5 Abad silam ketika jaman Rasulullah SAW dan jaman para sahabat dalam menghadapi bulan Ramadan.

Sebelum memasuki Ramadhan, Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan oleh para sahabat, lalu para tabi’in dan   Salafus shalih, selalu merindukan datangnya bulan suci Ramadhan. 

Untaian doa selalu terucap dari lisan Rasulullah Saw. begitu juga dari lisan-lisan mereka agar diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Setidak-tidaknya kerinduan itu datang dua bulan sebelum Ramadhan tiba. Bahkan seorang Imam madzhab Imam Malik selalu berpesan kepada murid-muridnya agar selalu mempersiapkan langkah-langkah menghadapi bulan suci Ramadhan.

Seorang generasi tabi’in bernama Ma’la bin Fadhal berkata bahwa dahulu sahabat Rasulullah berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan, agar Allah menyampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa pula agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu, diantara doa itu ialah:

أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

      Ya Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima. (HR. at- Thabrani.

Doa Rasulullah SAW yang dikuti oleh para salafus shaleh, terlihat dengan jelas bahwa sejak Rasulullah Saw. dan generasi sahabat serta tabi’ian, ternyata mereka selalu merindukan datangnya bulan suci Ramadhan. Bulan dimana setiap mukmin mendapatkan janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya tentang berbagai ganjaran dan keistimewaan yang tidak ada pada bulan-bulan lain. 

Namun dibalik itu semua, kami berharap agar kaum muslimin jangan berharap rahmat (kasih sayang), mahgfirah (ampunan) tersebut hanya pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi sandarkanlah harapan tersebut pada bulan-bulan yang lain juga, tentu istimewakanlah pada bulan Ramadhan. Nasihat ini pernah diucapkan oleh Imam Nawawi, bahwa kata beliau: Celakalah kaum ranbbaniyyin, mereka tidak mengenal Allah kecuali hanya bulan Ramadhan saja. 

Jadilah penerus Rasulullah, mengapa? Karena mereka setelah mengenal Allah dengan melaksanakan syariat, lalu mereka meningkatkan tahapan pengenalan kepada Allah dengan lebih semangat, serius dan penuh kehati-hatian, dalam hadits disebut wahtisaaban,  ghufirullohu taqodaman min dzanbih.

Kedua, pada saat Ramadhan telah datang, atau telah terbit hilal (bulan sabit), sebagai pertanda datangnya bulan baru. Rasulullah dan para sahabat menyambutnya dengan suka cita. Hal ini terbukti dengan doa yang beliau panjatkan dalam riwayat ad-Darami dari Ibnu Umar Ra:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَم وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar dia berkata: Bila Rasul melihat hilal dia berkata: Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addarami).

Rasulullah SAW sangat bergembira dengan memanjatkan doa, bukan gembira dengan hura-hura atau dengan hiruk pikk suara petasan, dan lain-lain, yang justru hanya memunculkan kebisingan.

Hingga pada saat Ramadhan sedang berlangsung, Rasulullah Saw. dan para sahabat meningkatkan ketakwaannya dengan menahan diri dari berbagai sahwat dan perbuatan yang dapat merusak kesempurnaan puasa. Mereka menutup setiap celah sahwat dengan mengetuk pintu-pintu kebaikan. Seperti sahwat anggota tubuh atau menyakiti orang lain dan sejenisnya. Semuanya dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari.

Beliau menghidupkan siang dan malam dengan berbagai amal ibadah. Seperti bersedekah, shalat tarawih, berzikir, membaca dan tadabbur al-Quran dan berbagai ibadah lainnya. Asiyah pernah berkata perihal perilaku Rasulullah Saw. dalam menyikapi Ramadhan, seperti dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas Ra: 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ

Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan.

Pada saat Ramadhan akan berakhir, Rasulullah Saw.  mengencangkan tali ikat pinggangnya. Beliau lakukan sebagai pertanda bahwa beliau tambah serius untuk beribadah dan menghidupkan malam-malamnya lalu membangunkan keluarganya untuk shalat dan berdzikir agar tidak kehilangan keberkahan yang melimpah ruah pada malam-malam tersebut. Bahkan khusus pada malam-malam terakhir, beliau beri’tikaf di masijid. 

Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Asiyah Ra:

أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Nabi Saw. biasa beri'tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri'tikaf setelah beliau wafat.

Rasulullah Saw. dan para sahabat lebih giat dalam beribadah di sepertiga akhir Ramadhan. Apabila kita ingin mencontoh perilaku Rasulullah Saw, ikutilah. Manfaatkanlah Ramadhan yang telah datang menghampiri kita. Semoga kita bisa dan mampu mengisi hari hari dan malam-malam Ramadhan dengan peningkatan ketakwaan, dan amal shaleh. Semoga Allah menaikkan kita ke derajat yang paling tinggi, yakni pribadi-pribadi yang muttaqien.

Dan pahala orang berpuasa, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Man Shouma romadhona imaanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min danbihi”. yang artinya, “Siapa saja orang giat beribadah ramadhan kanthi iman dan hanya berharap pahala karena Allah, maka orang tersebut akan diampuni dosa-dosa nya pada masa lampau.” (Aji)

Tidak ada komentar: