Simtudduror dan Jejak Keilmuan Ulama Nusantara: Mata Rantai Ilmu dari Makkah hingga Tanah Air
Suarabamega25.com - Kitab Simtudduror bukan sekadar karya sastra pujian kepada Rasulullah ﷺ, melainkan juga simbol agung mata rantai keilmuan Islam yang menghubungkan Tanah Suci Makkah dengan para ulama Nusantara. Di balik keindahan lantunan maulid yang terus hidup di tengah umat, tersimpan kisah besar tentang sanad ilmu, keteladanan ulama, dan persaudaraan ruhani lintas generasi.
Muallif Simtudduror, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, mewarisi keilmuan yang kokoh dari ayahandanya, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Sosok besar ini pernah menjabat sebagai Mufti Mazhab Syafi’i di Kota Makkah sejak tahun 1270 H, menggantikan Syaikh Ahmad Dimyathi yang wafat. Setelah beliau wafat, jabatan mufti kemudian dilanjutkan oleh ulama besar Hijaz, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Peran Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi tidak hanya berpengaruh di Hijaz, tetapi juga menjalar kuat ke Nusantara. Sejumlah ulama Indonesia tercatat pernah berguru langsung kepadanya. Di antaranya adalah Syaikh Arsyad Thawil Banten dari Jawa Barat, yang juga menimba ilmu kepada putra beliau, Al-Muhaddits Al-Habib Husein bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi—kakak kandung dari Shohibul Maulid, Habib Ali Al-Habsyi.
Jejak sanad hadits dari keluarga Al-Habsyi ini semakin menguat ketika dua tokoh besar Nusantara, Syaikh Mahfuzh Termas dan Hadlrotussyaikh Hasyim Asy’ari, tercatat belajar ilmu hadits kepada Al-Habib Husein bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. Dari sinilah tampak jelas bahwa kebangkitan keilmuan pesantren di Nusantara memiliki hubungan erat dengan para ulama Ahlul Bait di Tanah Suci.
Kisah silaturahmi yang penuh makna juga tercatat dalam perjalanan sejarah. Diceritakan, pada masa hidup Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi—putra Shohibul Maulid yang dimakamkan di Solo—Hadlrotussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari pernah singgah ke Solo dalam perjalanan dari Jombang menuju Tegal. Kunjungan tersebut diniatkan untuk menyambung silaturahmi. Dalam pertemuan itu, Kyai Hasyim banyak mengenang pengalaman beliau sebagai murid Habib Husein, yang merupakan paman dari Habib Alwi. Kisah bersejarah ini dituturkan oleh Al-Habib Muhammad Anis bin Alwi Al-Habsyi dari Solo.
Pengaruh keilmuan Habib Ali Al-Habsyi dan para muridnya kemudian menyebar luas di seantero Nusantara. Di wilayah Pasuruan, misalnya, Kyai Ahmad Qusyairi dan Kyai Ali Murtadho diketahui berguru kepada Habib Alwi bin Seggaf Assegaf. Sementara itu, Kyai Abdul Hamid menimba ilmu kepada Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf. Semua ini menunjukkan betapa kuat dan hidupnya jaringan keilmuan Islam yang berlandaskan adab, sanad, dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Simtudduror pun akhirnya tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi dihidupkan sebagai tradisi, doa, dan pengikat batin antara ulama, habaib, dan umat. Sebuah warisan ruhani yang terus mengalir, menembus batas zaman dan wilayah.
Semoga kita senantiasa mendapat ridlo Allah SWT, syafaat Rasulullah ﷺ, karomah para waliyullah, barokah para kiai dan habaib, serta wasilah doa orang tua kita. Al-Fatihah.


Tidak ada komentar: