Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Wanaqib Habib Ali al-Masyhur bin Hafidz: Pilar Ilmu, Dakwah, dan Keteguhan di Tarim


Suarabamega25.com, Tarim — Nama al-Habib al-‘Allamah Ali al-Masyhur bin Hafidz tercatat sebagai salah satu ulama besar Hadramaut di abad modern. Kakak kandung dari al-Habib Umar bin Hafidz ini dikenal luas sebagai penjaga sanad keilmuan, pemersatu umat, serta sosok yang teguh mempertahankan agama di tengah masa-masa paling sulit dalam sejarah Yaman Selatan.

Habib Ali al-Masyhur memiliki nasab mulia yang bersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Sayyidina Husain bin Ali dan Sayyidah Fatimah al-Zahra. Ia berasal dari keluarga Ba ‘Alawi yang masyhur dengan keilmuan, kezuhudan, dan dakwah bil hikmah. Silsilah panjangnya memuat nama-nama besar para wali dan ulama Hadramaut, termasuk al-Faqih al-Muqaddam dan Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa, yang menjadi fondasi spiritual Islam di wilayah tersebut.

Habib Ali al-Masyhur lahir di Tarim pada 13 Ramadan 1358 H atau bertepatan dengan 5 November 1939. Ia tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan ilmu dan keteladanan di bawah bimbingan ayahandanya, Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ibundanya Hababah Zahra binti Hafiz al-Haddar, serta kakeknya Habib Salim bin Hafidz. Nama “al-Masyhur” diberikan sebagai tabarrukan kepada ulama besar Habib Ali bin Abd al-Rahman al-Masyhur, yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menjelaskan kitab-kitab sulit dengan bahasa yang mudah dipahami—sebuah kemampuan yang kelak diwarisi oleh Habib Ali al-Masyhur.

Sejak kecil, Habib Ali al-Masyhur menempuh pendidikan agama secara intensif. Ia menghafal Al-Qur’an di Madrasah Abu Murayyam dan melanjutkan studi di Ribat Tarim sejak tahun 1365 H. Di sana, ia berguru kepada banyak ulama terkemuka, di antaranya Syekh Mahfuz bin Utsman, Syekh Salim bin Sa’id Bukayyir, Syekh Abdullah Ba Zaghayfan, dan Syekh Salih bin ‘Awad Haddad. Atas arahan ayahnya, ia juga menghabiskan dua tahun terakhir kehidupan kakeknya untuk menyerap ilmu dan bimbingan ruhani secara langsung.

Perjalanan keilmuannya berlanjut ke berbagai wilayah. Pada tahun 1377 H, ia diutus ke al-Shihr untuk belajar kepada Habib Abdullah bin Abdullah al-Rahman bin Shaykh Abu Bakr bin Salim. Ia kemudian mengajar di al-Ma’had al-Fiqhi Tarim sebelum berdakwah selama sekitar 13 tahun di Lembah Daw’an, membuka sekolah-sekolah dan membina masyarakat dengan pendekatan penuh hikmah.

Habib Ali al-Masyhur juga sempat menimba ilmu di Tanah Suci pada tahun 1386 H. Di Makkah dan Madinah, ia belajar kepada para ulama besar seperti Syekh Muhammad al-‘Arabi al-Tabbani, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, dan Syekh Hasan al-Mashat.

Ujian terbesar dalam hidupnya datang ketika rezim sosialis berkuasa di Yaman Selatan pada tahun 1967. Penindasan terhadap ulama mencapai puncaknya dengan penculikan dan pembunuhan ayahandanya, Habib Muhammad bin Salim, pada tahun 1392 H. Meski demikian, Habib Ali al-Masyhur memilih tetap tinggal di Tarim. Ia menggantikan peran ayahnya dalam urusan keagamaan dan sosial, memulihkan tradisi Islam yang dilarang, serta menjadi imam Masjid Jami’ Tarim.

Peran besarnya juga tampak dalam penyelamatan manuskrip-manuskrip Islam yang sempat disita rezim. Naskah-naskah berharga itu ia kumpulkan dan tempatkan di perpustakaan Masjid Jami’. Ia juga memimpin penyusunan ulang silsilah keluarga-keluarga keturunan Nabi ﷺ di Hadramaut, melanjutkan karya monumental para pendahulunya.

Pasca runtuhnya rezim sosialis dan bersatunya Yaman pada 1990, Habib Ali al-Masyhur kembali aktif membangun lembaga pendidikan. Bersama adiknya, Habib Umar bin Hafidz, ia mendirikan Dar al-Mustafa pada tahun 1414 H (1994), yang hingga kini menjadi pusat pendidikan Islam internasional. Ia juga mengajar di Universitas Ahqaf dan sejak tahun 1421 H menjabat sebagai Ketua Dewan Fatwa Tarim.

Dikenal sangat tawadhu, Habib Ali al-Masyhur dekat dengan masyarakat. Ia lebih memilih berdakwah dengan dialek Tarim agar mudah dipahami semua kalangan. Meski telah lanjut usia, aktivitasnya nyaris tak pernah surut—mengajar, menghadiri undangan pernikahan, hingga memimpin salat jenazah. Melalui keteguhannya, agama dan tradisi keilmuan Tarim tetap berdiri kokoh.

Habib Ali al-Masyhur wafat di Tarim pada 2 Syawal 1441 H atau 25 Mei 2020. Ribuan orang mengiringi kepergiannya dan memakamkannya di Pemakaman Zanbal, tempat yang sangat ia cintai dan sering ia kunjungi semasa hidup.

Semoga Allah SWT meninggikan derajat beliau, menerima seluruh amal baktinya, dan menjadikan warisan ilmu serta keteladanannya terus hidup di hati umat.

Sumber: MUWASALA

Tidak ada komentar: