Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Jejak Dakwah Habib Muhammad Al-Muhdhor di Tanah Jawa


Suarabamega25.com – Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor merupakan salah satu ulama besar keturunan Rasulullah SAW yang memiliki nasab mulia hingga kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Beliau dikenal sebagai sosok yang tampan, berwibawa, dan memiliki karisma kuat. Banyak ulama menyebut wajahnya sebagai salah satu dzurriyat yang paling mirip dengan Baginda Rasulullah SAW.

Beliau lahir di Quwaireh, Du’an Al-Ayman, Hadramaut, pada tahun 1280 H (sekitar 1863 M). Ayahnya, Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor, adalah ulama besar di zamannya yang menjadi rujukan para penuntut ilmu. Sejak kecil, Habib Muhammad mendapat pendidikan langsung dari ayah dan keluarganya, mengkhatamkan Al-Qur’an serta mendalami berbagai kitab keilmuan dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan menuntut ilmu, beliau banyak berguru kepada para ulama besar, di antaranya Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas yang sangat membentuk karakter dan kepribadiannya. Semangatnya dalam menimba ilmu terlihat dari kisahnya menyelesaikan pembacaan kitab dalam perjalanan bersama gurunya.

Setelah wafat ayahnya, beliau bersama saudaranya melakukan perjalanan dakwah ke berbagai negeri, termasuk Singapura dan Indonesia. Akhirnya beliau menetap di Bondowoso dan menjadikannya sebagai pusat dakwah. Di Surabaya, beliau memiliki hubungan erat sekaligus menjadi menantu dari Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, seorang wali besar di masanya. Hubungan keduanya sangat dekat, saling menghormati dan memuliakan.

Dalam berdakwah, Habib Muhammad dikenal santun dan bijak. Prinsipnya, menyampaikan dakwah sesuai tingkat pemahaman umat. Pendekatan lembutnya membuat seluruh lapisan masyarakat, dari pribumi hingga pejabat Belanda saat itu, menaruh hormat kepadanya.

Selain sebagai ulama, beliau juga dikenal sebagai sastrawan dengan karya-karya syair yang indah. Kepeduliannya terhadap umat, khususnya para Saadah Alawiyin, menjadikannya figur ayah bagi banyak kalangan.

Pada malam Selasa, 21 Syawal 1344 H atau 4 Mei 1926 M, beliau wafat di Surabaya setelah menjalani perawatan. Ribuan kaum muslimin mengantarkan jenazahnya ke pemakaman, dan beliau dimakamkan berdampingan dengan mertua sekaligus gurunya.

Warisan dakwahnya diteruskan oleh putra-putranya yang juga menjadi ulama, menjadikan nama Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor tetap harum sebagai salah satu tokoh besar penyebar Islam yang penuh kasih dan kebijaksanaan.

Tidak ada komentar: