Tokoh Adat Merauke Mama Sinta Pilih Dukung Program Pemerintah
Suarabamega25.com, Jakarta – Tokoh perempuan adat Marind dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta, akhirnya buka suara terkait keterlibatannya dalam narasi penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua Selatan. Dalam pernyataan video yang diterima media, Sabtu (23/5/2026), Mama Sinta mengaku kecewa karena merasa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu hingga namanya viral dan muncul dalam film Pesta Babi tanpa izin.
“Saya sudah tidak bergabung lagi dengan LBH mereka. Sekarang saya ambil keputusan sendiri. Saya mau cari pekerjaan di perusahaan karena rumah saya sudah tidak layak lagi,” ujar Mama Sinta.
Ia mengungkapkan, selama ini dirinya diajak oleh sejumlah pihak untuk menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan di Papua. Namun, menurutnya, perjuangan tersebut tidak membawa perubahan nyata bagi kehidupan keluarganya.
Mama Sinta mengaku hanya memperoleh “uang duduk” sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta selama mengikuti berbagai agenda bersama lembaga bantuan hukum dan aktivis, termasuk perjalanan ke Jayapura, Makassar, hingga Jakarta selama berbulan-bulan.
“Yang saya dapat cuma capeknya saja,” katanya.
Kekecewaan Mama Sinta memuncak setelah wajah dan kisahnya digunakan dalam film dokumenter Pesta Babi tanpa persetujuan dirinya. Ia menilai tindakan tersebut telah menyeret dirinya ke pusaran konflik dan opini publik tanpa memberikan manfaat bagi keluarganya.
“Akhirnya saya viral di mana-mana, sampai mereka buat film tanpa izin dari saya. Itu yang saya sangat kecewa,” tuturnya.
Dalam video tersebut, Mama Sinta juga memperlihatkan kondisi rumah dan dapurnya yang memprihatinkan. Ia mengaku masih menggunakan kayu bakar karena kompor minyak miliknya sudah rusak dan tidak layak pakai.
Kini, Mama Sinta memilih mendukung pembangunan PSN di Papua Selatan. Ia berharap pemerintah dan perusahaan dapat membantu masyarakat adat memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
“Kami mendukung pemerintah dan perusahaan supaya kami juga bisa menikmati hasil pembangunan,” ujarnya.
Mama Sinta bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai pernyataannya selama ini yang dinilai menyerang program pembangunan nasional di Papua.
Namun demikian, pernyataan Mama Sinta langsung mendapat tanggapan dari pihak lain. Peneliti Pusaka Bentala Rakyat, Villarian alias Juple, membantah bahwa Mama Sinta telah berubah sikap mendukung PSN.
Menurut Juple, sejauh ini Mama Sinta masih bersama kelompok masyarakat adat dan organisasi pendamping yang menolak proyek strategis nasional di Papua Selatan.
“Setahu kami tidak pernah ada Mama Yasinta menyatakan mendukung PSN. Itu perlu diklarifikasi,” kata Juple saat dikonfirmasi di Jakarta.


Tidak ada komentar: