Manaqib KH. Mahfuzh Amin: Ulama yang Dikenal Sangat Ikhlas dalam Pengabdian
Suarabamega25.com - KH. Mahfuzh Amin bin Tuan Guru H.M. Muhammad Ramli bin Tuan Guru H.M. Amin merupakan pendiri Pondok Pesantren Ibnul Amin, Pemangkih. Nama "Ibnul Amin" diambil dari nama kakek beliau, Tuan Guru H.M. Muhammad Amin.
Ayah beliau, Tuan Guru H.M. Muhammad Ramli, dikenal luas sebagai ulama dengan julukan Tuan Guru Tuha, sedangkan sang kakek masyhur dengan sebutan Tuan Guru Besar.
Dalam perjalanan hidupnya, KH. Mahfuzh Amin dikenal sebagai sosok yang istiqamah, disiplin, tawadhu, sederhana, dan memiliki keikhlasan yang luar biasa dalam berjuang di jalan Allah. Beliau tidak mengejar kemewahan dunia, melainkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat.
Keikhlasan beliau tampak dalam berbagai pengorbanan. Salah satunya, beliau rela menebang kebun cengkeh milik pribadinya demi pembangunan asrama pesantren putri. Bahkan, sepanjang hidupnya beliau tidak pernah memiliki kendaraan pribadi.
Selama kurang lebih 37 tahun, KH. Mahfuzh Amin mengabdikan seluruh tenaga, waktu, dan pikirannya untuk membangun Pondok Pesantren Ibnul Amin serta membina para santri. Hari-harinya dihabiskan untuk berjuang demi meninggikan kalimat Allah (li i'lā'i kalimatillāh).
Dalam sebuah kisah yang banyak dituturkan oleh masyarakat Banjar, ketika seseorang meminta nasihat kepada Abah Guru Sekumpul mengenai tempat yang baik untuk menyekolahkan anaknya, beliau menjawab, "Sekolahkan ke Pesantren Ibnul Amin Pemangkih, karena itu pesantrennya para Auliya Allah."
Pada kesempatan lain, Abah Guru Sekumpul juga disebut pernah menyampaikan, "KH. Mahfuzh Amin adalah seorang yang sangat ikhlas."
Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari penghormatan dan kecintaan masyarakat kepada KH. Mahfuzh Amin atas dedikasi, kesederhanaan, dan pengabdiannya dalam mendidik generasi umat Islam. Terlepas dari berbagai riwayat yang beredar di masyarakat, keteladanan beliau dalam keikhlasan, kesederhanaan, dan perjuangan di bidang pendidikan tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Apabila tulisan ini akan dipublikasikan sebagai artikel atau biografi, sebaiknya keterangan mengenai pernyataan Abah Guru Sekumpul disampaikan sebagai riwayat atau penuturan yang beredar di masyarakat, kecuali didukung oleh sumber yang dapat diverifikasi.


Tidak ada komentar: