Header Ads

Header Ads
Selamat Datang di Website www.suarabamega25.com " KOMITMEN KAMI MEMBANGUN MEDIA YANG AKURAT DAN BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT " Alamat Redaksi Jl. Berangas KM. 2.5 No. 20 RT. 05 Desa Batuah Kotabaru Kalsel, Contact Mobile : 0812-5317-1000 / 0821-5722-6114.

Manaqib Habib Ali bin Ahmad Al Aidin, Pulau Panggang Kepulauan Seribu


Suarabamega25.com - Jakarta Utara Haul ke 133 Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali Keramat Habib Panggang pada tahun 1445 H /2024 akan kembali digelar pada bulan Syawal.

Ia adalah ulama dan mubalig asal Hadramaut yang pada abad ke-18 bertandang ke nusantara untuk berdakwah. Ia wafat pada 20 Zulkaidah 1312 H/1892 M.

Sejak sehari sebelum haul digelar, biasanya ratusan jemaah sudah mulai berdatangan dari

berbagai penjuru. Dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Banten, dan daerah￾daerah lain. Pulau Panggang merupakan sebuah kelurahan tersendiri, masuk dalam

Kecamatan Pulau Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Jakarta.

Peringatan haul biasanya digelar pada Ahad pagi digelar di musala kompleks makam. Sejak

pukul delapan, jemaah sudah memadati kompleks makam – luber sampai ke pelataran.

Ketika jemaah dan para tamu kehormatan hendak memasuki kompleks makam, Habib Zen

bin Hasan bin Hasyim Al-Aidid, cicit almarhum, memimpin salam ‘ibadallah, salah satu syair

tawasul manakib Syekh Abdul Qadir Jailani. Dilanjutkan pembacaan zikir, tahlil, dan selawat. 

Setelah itu segenap jemaah membaca surah Ya-Sin, Acara ziarah itu ditutup dengan doa,

dipandu oleh Habib Zen bin Hasan bin Hasyim Al-Aidid, sang cicit.

Usai berziarah, para habib dan segenap jemaah kembali ke aula makam untuk mengikuti

tausiah dari para ulama serta pembacaan riwayat hidup (manakib) almarhum.

Rawan Perampokan

Pada abad ke-18, pertama kali Habib Ali ke Nusantara bersama empat kawannya: Habib

Abdullah bin Muhsin Alatas, Kramat Empang Bogor; Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor,

Bondowoso, Surabaya; Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya; dan Habib

Salim Alatas, Malaysia. Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing

menyebar ke kota-kota dan negeri di atas.

Di Batavia, Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan syarifah setempat,

Zakhroh binti Syarif Muhsin Al-Habsyi. Dari perkawinan itu, mereka dikaruniai seorang

putra, Hasyim bin Ali Aidid. Di sana, ia berdakwah kurang lebih selama dua tahun. Suatu hari

ia mendengar kabar, di sebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan

jauh dari dakwah Islam, Pulau Panggang.

Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Habib

Ali hendak menyeberang, ternyata tak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdoa

kepada Allah SWT. Seperti halnya para ulama besar lainnya, Habib Ali juga memiliki

karamah. Tak lama kemudian muncullah seribu lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu

menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, berlayar menuju Pulau

Panggang. Kemudian ia bermukim di sana, mengajar, dan berdakwah.

Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa

dimaklumi jika dakwahnya mudah diterima oleh warga pulau dan sekitarnya. Dengan

pendekatan tasawuf, terutama yang ia petik dari kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam

Ghazali, Habib Ali mengajar dan berdakwah ke segenap pelosok pulau. Bahkan belakangan.

Ia memperluas jaringan dakwah sampai ke Palembang, Singapura, dan Malaka.

Karamah lainnya, suatu malam, usai berdakwah di Kramat Luar Batang, Penjaringan,

Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya diadang gerombolan

perompak. Tapi, dengan tenang Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut.

Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di

karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Habib Ali dan rombongan selamat sampai

di rumahnya di Pulau Panggang.

Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon

untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah

kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Habib Ali

menangis, lantas berdoa, ”Ya Allah, selamatkanlah seluruh penduduk Pulau Panggang.”

Doanya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik

 perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.

Hingga akhir hayatnya, Habib Ali mengajar dan berdakwah di Pulau Panggang. 

Suatu malam, ia mendapat isyarat bahwa sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya

ia ingin pulang ke Palembang, namun urung. Dan kepada para santrinya ia menyatakan,

“Saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan: keesokan harinya, 20 Zulkaidah

1312 H/1892 M, ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau

Panggang.

Sesungguhnya, jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk dimakamkan di sana.

Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba

-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. 

Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknani

peristiwa itu sebagai kehendak sang Habib untuk dimakamkan di pulau tersebut.

Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al-Aidid adalah seorang ulama besar yang langka, yang berani

 merintis dakwah di kawasan terpencil, dan berhasil. Haulnya di peringatan ke 133 biasanyadigelar pada bulan Syawal .(Aji)

Tidak ada komentar: