BRIN dan Rosatom Rusia Perkuat Kerja Sama Nuklir, Indonesia Siapkan Masa Depan Energi Modern
Suarabamega25.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional terus memperkuat langkah menuju pengembangan teknologi nuklir nasional. Kepala BRIN, Arif Satria, menerima kunjungan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, guna membahas potensi kerja sama strategis pengembangan nuklir untuk sektor energi maupun non-energi.
Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari pertemuan antara Alexey Likhachev dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (12/5/2026).
Dalam keterangannya, Arif Satria menegaskan bahwa penjajakan teknologi nuklir merupakan bagian dari upaya komprehensif Indonesia untuk mempersiapkan teknologi masa depan yang aman dan berkelanjutan.
“BRIN bertugas memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi,” ujar Arif.
Fokus utama kerja sama diarahkan pada penguatan Joint Working Group guna mempersiapkan implementasi energi nuklir berskala besar di Indonesia. Pembahasan mencakup penyusunan roadmap, studi tapak, pemilihan teknologi reaktor, hingga pendalaman terkait siklus bahan bakar nuklir.
Tak hanya energi, kolaborasi strategis Indonesia-Rusia juga menyentuh berbagai sektor penting lainnya. Salah satunya adalah revitalisasi fasilitas riset nuklir nasional, termasuk modernisasi Reaktor GA Siwabessy di Serpong. Selain itu, kerja sama mencakup pengelolaan limbah radioaktif, fabrikasi elemen bakar, serta pengembangan teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen dan kebutuhan industri modern.
Pengembangan radioisotop dan teknologi iradiasi juga menjadi prioritas untuk mendukung sektor kesehatan, pangan, dan industri nasional.
Di sisi lain, penguatan sumber daya manusia menjadi perhatian serius. BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan memperkuat pendidikan teknologi nuklir agar Indonesia memiliki tenaga ahli yang siap menghadapi era energi baru.
Arif menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan nuklir tidak hanya bergantung pada aspek teknis, namun juga penerimaan masyarakat. Karena itu, pendekatan ilmu sosial dinilai penting agar proses transisi energi berjalan secara transparan, aman, dan humanis.
Kerja sama Indonesia dan Rusia di bidang nuklir sendiri telah terjalin cukup lama. Sejak 2015, berbagai kolaborasi teknis telah dilakukan melalui lembaga seperti BATAN, BAPETEN, hingga Politeknik Teknologi Nuklir bersama mitra dari Rusia.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, Rosatom bahkan telah menawarkan dua opsi proposal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia dengan total kapasitas mencapai 5 gigawatt hingga tahun 2040.
Opsi pertama mencakup pembangunan Small Modular Reactor (SMR) di Kalimantan Barat berkapasitas 3x110 MW yang diproyeksikan mulai beroperasi bertahap pada 2032-2035. Selain itu, Rosatom juga mengusulkan pembangunan PLTN skala besar di Bangka Belitung dan Kalimantan Selatan dengan kapasitas masing-masing 2x1.200 MW yang ditargetkan rampung pada 2037-2040.
Sementara opsi kedua menawarkan inovasi PLTN terapung di Kalimantan Barat berkapasitas 2x110 MW yang direncanakan beroperasi lebih awal pada 2030 dan 2031. Proposal tersebut juga tetap mencakup pembangunan PLTN besar di Bangka Belitung dan Kalimantan Selatan secara bertahap hingga 2040.
Kerja sama strategis ini dinilai menjadi langkah penting Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transformasi menuju teknologi energi bersih dan modern di masa depan.


Tidak ada komentar: