Manaqib Syekh Muhammad Syarwani Abdan: Guru Bangil, Ulama Besar Banjar yang Mengajar di Masjidil Haram
Suarabamega25.com - Syekh Muhammad Syarwani Abdan, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Bangil, merupakan salah satu ulama besar asal Banjar yang memiliki kedalaman ilmu luar biasa. Lahir di Kampung Melayu Ilir, Martapura, pada 1913 M/1334 H, beliau dikenal sebagai salah satu dari "Dua Mutiara dari Tanah Banjar" bersama sepupunya, Syekh Muhammad Anang Sya'rani.
Keistimewaan Guru Bangil diakui oleh banyak ulama dunia. Bahkan guru beliau, Sayyid Amin Qutbi, pernah memuji kedalaman ilmunya dengan ungkapan yang terkenal, "Syarwani ini memang sumurnya kecil, tetapi sangat dalam." Ungkapan tersebut menggambarkan sosok beliau yang sederhana dalam penampilan, namun memiliki keluasan ilmu yang luar biasa.
Menuntut Ilmu hingga Tanah Suci
Sejak kecil, Guru Bangil tumbuh di lingkungan religius dan belajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura di bawah asuhan pamannya, Syekh Kasyful Anwar Al-Banjari. Semangatnya dalam mencari ilmu membawanya merantau ke Bangil, Jawa Timur, sebelum akhirnya berangkat ke Makkah pada usia 16 tahun.
Di Tanah Suci, beliau berguru kepada banyak ulama terkemuka, di antaranya Sayyid Muhammad Amin Qutbi, Sayyid Alawi Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, dan sejumlah masyayikh lainnya. Kedalaman ilmunya membuat beliau dipercaya menjadi pengajar di Masjidil Haram, sebuah kehormatan yang sangat langka bagi ulama Nusantara.
Menolak Jabatan Demi Dakwah
Sepulang dari Makkah, Guru Bangil mengajar di Martapura. Meski pernah diminta menjadi qadhi (hakim agama), beliau memilih menolak secara halus. Baginya, mengabdikan diri melalui dakwah, mengajar, dan beribadah tanpa terikat jabatan merupakan jalan terbaik untuk melayani umat.
Pada 1950, beliau menetap di Bangil, Jawa Timur. Awalnya beliau hidup sederhana sebagai pedagang toko bangunan sambil terus memperdalam ilmu. Setelah mendapat isyarat dari gurunya, beliau mulai membuka majelis taklim yang kemudian menjadi tempat belajar para kiai dari berbagai daerah.
Mendirikan Pondok Pesantren Datuk Kelampayan
Pada 1970, Guru Bangil mendirikan Pondok Pesantren Datuk Kelampayan, yang mengambil nama dari leluhurnya, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Pesantren ini kemudian dikenal luas sebagai "Pondok Banjar" karena banyak santrinya berasal dari Kalimantan Selatan.
Beliau dikenal sebagai pendidik yang penuh kasih. Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanggung kebutuhan hidup para santri agar mereka dapat belajar dengan tenang.
Melahirkan Banyak Ulama Besar
Guru Bangil dijuluki sebagai guru para ulama. Banyak tokoh besar yang pernah menimba ilmu kepada beliau, termasuk Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), KH Ahmad Bakeri, KH Asmuni (Guru Danau), KH Muhammad Syukeri Unus, KH Zaini Tarsyid, dan puluhan ulama lainnya yang kemudian mendirikan pesantren dan majelis taklim di berbagai daerah.
Karya dan Warisan Ilmu
Selain mengajar, Guru Bangil juga menghasilkan sejumlah karya tulis, di antaranya Adz Dzakhiratus Ats-Tsaminah li Ahlil Istiqamah yang diterjemahkan menjadi Simpanan Berharga, serta risalah tentang shalat, puasa, dan terjemahan Syair Burdah. Karya-karyanya mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh nasional dan ulama terkemuka.
Wafat dan Haul
Guru Bangil wafat pada 11 September 1989 M / 12 Safar 1410 H dalam usia sekitar 74 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks keluarga Habib Muhammad bin Ja'far Al-Haddad, Dawur, Bangil, Jawa Timur.
Hingga kini, makam beliau terus diziarahi ribuan jamaah dari berbagai daerah. Haul Guru Bangil menjadi momentum mengenang jasa beliau dalam mencetak generasi ulama dan menyebarkan ilmu yang terus mengalir manfaatnya hingga sekarang.
Sosok Syekh Muhammad Syarwani Abdan dikenang bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena ketawadukan, keikhlasan, serta dedikasinya dalam mendidik umat. Warisan ilmu dan murid-murid beliau menjadi bukti bahwa cahaya dakwah Guru Bangil terus hidup lintas generasi.


Tidak ada komentar: