Tuan Guru Husein Qodri, Ulama Besar Banjar dengan Segudang Karya Tulis
Suarabamega25.com – Tradisi keilmuan Islam di Kalimantan Selatan tidak hanya diwariskan melalui majelis taklim dan pengajian, tetapi juga melalui karya-karya tulis para ulama. Salah satu tokoh yang menonjol dalam tradisi tersebut adalah Tuan Guru Husein Qodri, ulama Banjar yang dikenal luas sebagai pengarang Kitab Senjata Mukmin, sebuah kitab amaliyah yang hingga kini masih populer dan diamalkan oleh masyarakat Banjar.
Tuan Guru Husein Qodri merupakan putra dari Tuan Guru Ahmad Zaini bin Tuan Guru Abdurrahman dari Tunggul Irang, Martapura. Beliau lahir dan tumbuh dalam keluarga ulama yang memiliki tradisi keilmuan kuat. Kakeknya, Tuan Guru Abdurrahman bin Zainuddin, dikenal memiliki jejaring keilmuan yang luas dengan para ulama besar pada masanya, sehingga lingkungan keluarga menjadi tempat tumbuhnya semangat belajar, akhlak mulia, dan kecintaan terhadap ilmu.
Atmosfer keilmuan tersebut membentuk karakter Tuan Guru Husein Qodri sebagai seorang ulama yang produktif dalam menulis. Salah satu karya paling terkenal adalah Kitab Senjata Mukmin, yang memuat berbagai amaliyah harian seorang muslim dan telah menjadi pegangan masyarakat Banjar selama beberapa generasi.
Selain itu, beliau juga menulis Kitab Haji dan Umrah, yang menjadi rujukan penting bagi masyarakat dalam memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Kedua kitab tersebut telah beredar luas dan diwariskan secara turun-temurun.
Produktivitas intelektual beliau tidak berhenti pada dua karya tersebut. Tuan Guru Husein Qodri juga menyusun sebuah karya tafsir Al-Qur'an yang digunakan sebagai bahan pengajaran di majelis ilmunya. Kehadiran karya tafsir ini menjadi salah satu ciri khas beliau, mengingat banyak ulama Banjar pada masa itu lebih dikenal melalui karya-karya fikih dan tasawuf.
Selain kitab-kitab ilmiah, beliau juga meninggalkan kumpulan naskah khutbah dan ceramah yang ditulis tangan dengan sangat rapi. Setiap naskah dilengkapi tema, referensi, bahkan tanggal penyampaian, menunjukkan kedisiplinan dan ketelitian beliau dalam mempersiapkan materi dakwah.
Kebiasaan intelektual lainnya adalah membuat catatan-catatan kecil mengenai berbagai persoalan keagamaan. Catatan tersebut selalu disertai sumber rujukan yang jelas serta waktu dan tempat penulisannya. Cara ini mencerminkan kehati-hatian beliau dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat sekaligus komitmen menjaga keakuratan referensi.
Salah satu hal yang menarik adalah kecintaan beliau terhadap literatur Islam modern. Tuan Guru Husein Qodri bahkan diketahui pernah menyalin secara langsung Tasawuf Modern karya Buya Hamka. Tindakan tersebut bukan sekadar menyalin isi buku, melainkan menjadi bentuk penghormatan terhadap sebuah karya ilmiah yang dianggap memiliki manfaat besar bagi umat.
Kajian filologis terhadap manuskrip-manuskrip peninggalan beliau menunjukkan bahwa Tuan Guru Husein Qodri merupakan salah satu ulama Banjar dengan produktivitas menulis yang tinggi. Karya-karyanya menjadi bukti keluasan ilmu, ketekunan, dan dedikasi beliau dalam mengembangkan khazanah keilmuan Islam di Kalimantan Selatan.
Warisan intelektual Tuan Guru Husein Qodri tidak hanya berupa kitab-kitab yang terus dibaca hingga kini, tetapi juga semangat untuk menulis, mendokumentasikan ilmu, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Di tengah perkembangan zaman, keteladanan beliau menjadi pengingat bahwa tradisi literasi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan ilmu dan peradaban Islam. ( Hasan Rusydi)


Tidak ada komentar: